Fathor Rahman MD

hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan dimenangkan

Orang Gila dan Gedung DPR

Mengejutkan, tapi tidak menarik perhatian. Jumlah orang gila di Jawa Tengah (Jateng) sudah mencapai 30.000 lebih. (Kompas, 19/03/2011). Akan tetapi sayang tidak banyak orang yang membicarakannya. Mungkin karena bukan isu politik yang akan mempengaruhi kesejahteraan orang banyak? Atau karena bukan kisruh pembangunan gedung baru DPR? Atau jangan-jangan bangsa kita tengah mengidap penyakit gila?

Kalau ada yang menyetujui dugaan yang terakhir, tentu dianggap gila. Karena dalam pemahaman umum orang gila adalah yang lupa ingatan. Akal sehatnya tidak berfungsi dan kehilangan perasaan malu. Tapi ingat, hanya orang waras di dunia ini yang mengerti keberadaan orang gila. Jika kita masih merasa waras, tidak salah membicarakan orang gila. Karena orang gila adalah bagian dari hidup orang waras. Tapi bukan berarti harus membiarkan mereka gila demi nilai kewarasan kita.

Jumlah orang gila yang mencapai 30.000 bukan angka yang kecil. Apalagi itu masih dalam lingkup wilayah Jateng, belum daerah yang lain. Penyakit gila tidak hanya berkembang di daerah tertentu. Seluruh belahan dunia memiliki pontensi munculnya orang gila. Artinya, di daerah lain di Indonesia pasti ada, jumlahanya bisa lebih kecil atau lebih besar.

Di Jawa Timur (Jatim), tepatnya di Kabupaten Ponorogo, ada sebuah kampung yang terkenal dengan sebutan “kampung idiot”. Sebutan itu bukan sekedar penamaan belaka. Tapi karena kampung itu didiami oleh sedikitnya 53 orang idiot. Mereka rata-rata masih berusia produktif, 15 orang diantaranya berusia di bawah 10 tahun dan sisanya berusia 25 – 30 tahun. Kampung itu berada di Desa Pandak. Mereka memang bukan orang gila, tapi mereka mengalami gangguan mental, nyaris seperti orang gila.

Saat ini Rumah Sakit Jiwa Amino Gondo Utomo Semarang hanya merawat orang gila di bawah angka 13.000. Dari jumlah tersebut sebagian besar pengguna Jamkesmas dan Jamkesda. Sedangkan siasanya ada yang dikurung di rumahnya, sebagian lagi berkeliaran di jalanan. Mereka yang tak dirawat di rumah sakit, tidak lain alasannya karena keuangan. Data tersebut seolah berbicara, bahwa mereka yang gila adalah orang-orang miskin.

Begitu juga dengan “kampung idiot” yang berada di Ponorogo Jawa Timur, nyaris semua penduduknya berada di bawah garis kemiskinan. Di sana beras sama berharganya dengan mobil anggota dewan di Jakarta. Anjuran empat sehat lima sempurna tidak ubahnya dengan iklan mobil di telivisi. Di Pandak, teori kesehatan tentang asupan gizi yang tidak layak dapat mengganggu pertumbuhan mental menemukan wujudnya. Ironisnya kampung itu hingga sekarang dibumbui mitos, sebagai “kampung kutukan”. Entah siapa yang menyebar mitos itu?

Dari dua realitas di atas, tampaknya kemiskinan dan gangguan mental bersaudara. Ada hubungan yang erat antara kemiskinan dan ganguan mental. Kemiskinan dan gangguan mental menyerupai logika domino. Ketika menyakut kemiskinan tentu bukan lagi persoalan individu, tapi melibatkan struktur negara yang selama ini tak kunjung berhasil mengkerdilkan angka kemiskinan. Orang gila cermin ketidakberesan negara.

Gilanya wakil rakyat

Beranjak dari persoalan di atas, beberapa hari terakhir, para politisi sedang sibuk membicarakan rencana pembangunan gedung baru. Pembangunan yang tak tanggung-tanggung akan menghabiskan dana, sekitar Rp1 triliun. Di saat rencana pembangunan gedung marak mendapat kritik, Ketua DPR Marzuki Alie malah memberikan komentar, masyarakat tak perlu diajak berbicara soal gedung, cukup para elit saja. Paling tidak upaya survie persetujuan publik pun tak pernah dilakukan.

Padahal kalau mengaju kepada hasil jajak pendapat yang dilakukan Charta Politika, 80 % responden menolak rencana pembangun gedung. Betapa gilanya wakil rakyat kita ingin membangun gedung. Sampai-sampai tak ingin mendengarkan dan melibatkan suara rakyat. Mereka telah kehilangan akal sehatnya, lupa bahwa dirinya dipilih rakyat. Dipilih agar bisa mengentaskan kemiskinan. Karena kemiskinan adalah penyakit dan sekaligus bibit segala penyakit, seperti penyakit mental.

Tapi kenyataannya, rakyat salah memilih. Orang-orang yang dipilihnya juga mengalami gangguan berfikir, yang saat ini sedang gila gedung.. Tak punya rasa malu, meski dikritik sana-sini agar dibatalkan, masih saja ngotot. Mereka benar-benar berwajah tembok. Maaf-maaf kata, sepertinya mereka tidak terlalu keliru bila kita identifikasi sebagai orang gila yang berdasi dan suka plesiran ke luar negeri. Wujud orang gila yang lain, selain yang ada di Jateng dan Jatim.

Para DPR benar-benar tak punya rasa malu, nyaris menyerupai orang gila. Mereka tidak sadar diri kalau selama ini kinerjanya amburadulnya. Buktinya, DPR baru menghasilkan 17 RUU dari target 70 RUU pada 2010. DPR pernah memberikan cek kosong Rp1,1 triliun pada APBN-P 2010, tanpa jelas peruntukannya. DPR pun gemar menggemukkan anggaran sendiri, antara lain melalui dana aspirasi. Saat ini malah boro-boro ingin membangun gedung dengan menghabiskan dana besar.

Kalau memang tidak mau dikatakan gila, mengapa dana senilai Rp 1 Triliun tidak digunakan untuk merehabilitasi orang gila dan cacat mental di Jateng dan Jatim saja? Jangan beralasan jaminan kesehatan adalah tanggung jawab eksekutif dan pemerintah daerah. Anggaran legislatif tidak haram dialihkan ke eksekutif. Semuanya bisa diatur, ketimbang dikorupsi. Jaminan kesehatan dalam program Sistem Jaminan Sosial Nasional sampai sekarang masih amburadul. Rumah Sakit Jiwa Amino Gondo Utomo Semarang hanya bisa merawat 13.000 orang gila.

Jika masih punya akal sehat, berfikirlah. Orang gila adalah potensi untuk mengerakkan ekonomi dan mengecilkan orang miskin. Kalau mereka mendapat perawatan yang layak dan sembuh, mereka bisa mengerakkan pertumbuhan ekonomi. Karena mereka bagian dari sumber daya manusia, yang bisa menghasilkan pajak usaha bagi negara. 30.000 orang lebih penduduk kita tidak bisa menghasilkan apa-apa karena gila. Apa jadinya kalau negara ini masih ditambah oleh kegilaan wakil rakyat membangun gedung dengan memakan anggaran yang tidak sedkit. [Fathor Rahman MD]

Tulisan ini dimuat Harian Jogja, 09 April 2011

One comment on “Orang Gila dan Gedung DPR

  1. amat
    Oktober 25, 2014

    DPRpun manusia dia 5 th saja jadi lepas tu habis mumpung jadi DPR maka naik gila lah siapa tahu projek nanti dia sendiri yang covered. Jadi untung sekali kan???? Jadi g payah opini rakyat. Cukup elit aja. Siapa yang jadiin dia elit???? Jadi baik tambahkan dia termasuk?daftar orang gila elit baru. Masukkan RSJ mana mana aja. Kurung biar tidak menular…..virusnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 12, 2011 by in Uncategorized.

Navigasi

%d blogger menyukai ini: