Fathor Rahman MD

hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan dimenangkan

Mereka yang Mengelolah Sampah

Asri Permai adalah salah satu perumahan yang berada di RW 03 Pedukuhan Kadisoko. Di perumahan tersebut terdiri dari 10 RT. Secara administratif merupakan bagian dari Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman. Secara sosiologis wilayah tersebut tergolong sebagai sub-urban. Rute untuk sampai ke perumahan Asri Permai dari arah Yogyakarta bisa melalui Jalan Jangkang. Jalan Jangkang adalah jalan keluar dari Ring Road pojok timur utara, jalan yang menuju stadion Maguwoharjo, stadion yang dimiliki pemerintah Sleman. Dari jalan Jangkang jika mengambil jalur kiri bertemu dengan stadion Maguwoharjo, maka dengan mengambil jalur kanan akan sampai ke perumahan Asri Permai Kadisoko.

Sekitar 500 meter dari perumahan Asri Permai Kadisoko terdapat Tempat Pembuangan Sampah (TPS). TPS itu mulanya adalah tanah bengkok yang dimiliki dukuh Kadisoko. Mulanya TPS itu dijadikan tempat pembuangan sampah akhir (TPA) bagi masyarakat sekitar. Waktu itu masih bersifat liar, tidak terkelolah seperti sekarang. Seiringan dengan berjalannya waktu, sampah-sampah terus menumpuk dan bau tak sedap menyengat kemana-mana, mulai dirasa menganggu lingkungan masyarakat sekitar. Kemudian, sejak tahun 2005 areal pembuangan sampah itu dikelolah menjadi TPS. Sampah di sana diangkut ke TPA Piyungan Bantul. Proses pembentukan menjadi TPS dibantu langsung oleh pemerintah Sleman.

Setelah areal pembuangan sampah tersebut terkelolah, maka tidak semua orang boleh membuang sampah di sana. Karena proses itu memunculkan orang-orang penyedia jasa pengangkut sampah. Ada lima orang yang menjadi jasa pengangkut sampah dari rumah penduduk. TPS itu tidak hanya digunakan untuk tempat pembuangan sampah dari warga kadisoko, bahkan hingga dari luar desa Purwomartani. Lima orang tersebut mengangkut sampah dari berbagai perkampungan penduduk. Bapak Marzudi (40), yang akrab dipanggil warga dengan panggilan Gareng, adalah salah seorang pengangkut sampah dari perumahan Asri Permai Kadisoko. Menurutnya, ia mulai menjadi jasa pengangkut sampah sejak tahun 2008, mengantikan bapaknya.

Pak Marzudi memangkut sampah dari perumahan Asri Permai setiap dua hari sekali. Dari 10 RT yang ada di Perumahan Asri Permai, hanya tiga RT yang menjadi tanggungjawab Pak Marzudi, dari RT 07 hingga RT 09. Jumlah rumah tangga yang sampahnya diangkut Pak Marzudi sebanyak 110 dari tiga RT tersebut. Pak Marzudi mengangkut sampah rumah tangga dari perumahan Asri Permai Kadisoko dengan mengunakan mobil pick-up. Selain menjadi jasa pengangkut sampah, Pak Marzudi mengelolah tambak ikan. Dan ia memiliki satu pekerja bernama Satap (38) yang setiap hari dibayar 25.000 dengan waktu kerja hingga jam 12 siang. Dalam kerja mengangkut sampah, Pak Satap pun turut membantu.

Di TPS Kadisoko, sebelum sampah diangkuti ke TPA Piyungan Bantul, terdahulu sampah diacak untuk dilakukan pemilahan. Karena tidak semua sampah bersifat residu, ada banyak macam sampah yang masih memiliki nilai jual. Seperti sampah kertas, plastik dan botol. Di lokasi ini ada tujuh orang yang melakukan pemilahan sampah. Dua orang pemulung dan lima orang yang menjadi jasa pengangkut sampah dari rumah penduduk. Dua pemulung itu dapat keuntungan dari hasil memilah sampah. Karena dari hasil pilahanya akan dijualnya ke tukang rongsok. Selain itu, dua pemulung tersebut juga mendapat imbalan dari lima orang jasa pengangkut sampah. Menurut Pak Marzudi, dirinya setiap bulan memberi imbalan dengan kisaran sebesar 80.000 hingga 100.000 untuk dua orang pemulung. Tergantung volume sampah yang dibawa dari rumah penduduk.

Dua pemulung itu Bu Yani (46) dan Bu Suhartini (42), keduanya berasal Winolelo Pleret Bantul. Bagi dua orang tersebut TPS Kadisoko adalah areal kekuasaannya, sebuah medan sumber penghasilan. Baginya tidak boleh ada pemulung lain masuk ke TPS Kadisoko. Mereka setiap hari berdua berangkat dari rumahnya jam 5 pagi, lalu pulang jam 3 sore. Dari pekerjaannya memulung di Kadisoko setiap bulan bisa mengumpulkan keuntungan 1 juta-an per orang, termasuk upah dari 5 pengangkut sampah yang dari perumahan penduduk. Serta dari hasil penjualan rongsok hasil pilahannya. Biasanya keduanya menjual rongsoknya setiap satu bulan sekali. Hasil pemilihannya dikumpulkan di areal TPS. Hitung-hitungannya setiap dalam menjual rongsok tiap bulan kisaranya berjumlah 700.000 hingga 800.000.

Pak Marzudi, selain mengangkut sampah, ia juga ikut memilah di TPS, dan hasil sampah pilahanya juga dijual ke tukang rongsok. Menurutnya, ia menjual hasil pilahannya tiap bulan sekali. Tidak ada patokan yang pasti tiap menjualnya dapat berapa. Tapi kalau dirata-rata, tiap bulan bisa mendapat uang senilai 500.000 hingga 600.000. Penghasilan itu belum lagi upah menjadi jasa pengangkut sampah. Setiap bulan Pak Marzudi mendapat upah sebesar 1.200.000,- dari RW 03 perumahan Asri Permai. Ia mengakui dalam sebulan pendapatan kotornya bisa mencapai 1.800.000,- dari menjadi jasa pengangkut sampah.

Dikatakan sebagai pendapatan kotor karena, selain memberi imbalan kepada dua pemulung, ia juga harus membayar kepada dinas PU sebesar 300.000 perbulan. Sedangkan untuk kas dukuh tidak harus menyumbang, karena sampahnya masih berasal dari pedukuhan Kadisoko. Kalau bagi pengangkut sampah yang dari luar pedukuhan harus memberikan setoran ke kas dukuh. Sejak areal pembuangan sampah liar itu dikelolah, kas dukuh Kadisoko memiliki pemasukan baru dari tanah bengkok yang dijadika TPS. Setiap orang jasa pengangkut yang membawa sampah dari luar daerah Kadisoko harus membayar seteron sebesar 150.000,-. Ada empat orang yang membawa sampah dari luar dukuh Kadisoko, Pak Budi, Pak Slamet, Pak Hartono dan Pak Muji.

Dalam setiap bulan dari mana RW 03 Kadisoko mendapatkan uang untuk membayar Pak Marzudi? Uang itu berasal dari uang wajib sampah dari warga yang dihitung per-rumah. Warga perumahan Asri Permai setiap bulan diwajibkan membayar uang sampah sebesar 8000,- per rumah. Sebenarnya untuk daerah perumahan Asri Permai memiliki dua pengangkut sampah, yakni Pak Marzudi dan Pak Slamet. Tapi keduanya memiliki areal pengambilan di RT yang berbeda. Areal pengambilan sampah untuk Pak Marzudi dari RT 07 hingga RT 09. Dengan rincian sebagai berikut; Di RT 07 ada 35 KK dengan 34 rumah. Di RT 08 ada 50 KK dengan 46 rumah. Dan di RT 09 ada 32 KK dengan 30 rumah.

Pola pengumpulan uang wajib sampah dari warga di perumahan Asri Permai melalui Ibu-Ibu Dasa Wisma. Menurut Bapak Kadarso, Ketua RT 09, biasanya sebelum tanggal 09 uang dari setiap Dasa Wisma ditarik, karena setiap tanggal 09 ada pertemuan PKK RT, dipertemuan itu uang dari tiap RT disetorkan ke kas RW. RT 09 ada tiga Dasa Wisma, dalam satu Dasa Wisma pengurusnya yang menarik dari warga. Kemudian disetor ke Ibu RT selaku ketua PKK RT. Setiap bulan RT 09 menyetorkan uang wajib sampah kepada RW sebesar 240.000,-. Demikian juga dengan dua RT yang lain, akan menyetorkan uang wajib sampah sesuai dengan jumlah rumah tangga yang ada.

Menurut Ibu Intan (35), Ibu rumah tangga di RT 09, pengelolaan sampah di lingkungannya sudah cukup nyaman. Warga tinggal membayar uang sampah sebesar 8000 kepada RT dan sampah rumah tangganya diangkut oleh petugas sampah, petugas yang dimaksud adalah Pak Marzudi. Hanya saja kalau mempunyai sampah selain yang terkategori sebagai sampah rumah tangga mesti memberi tip atau uang tambahan kepada pengangkut. Kategori sampah rumah tangga adalah sampah dari dapur atau sampah yang dihasilkan dari kegiatan seseorang setiap hari di rumah tangga. Kalau memiliki sampah pohon yang terlampau banyak atau pecahan besar kaca warga harus memberi tip agar diangkut. Menurut Kadarso, hal tersebut sudah merupakan perjanjian kontrak antara Pak Basuno selaku Ketua RW dengan seorang jasa pengangkut sampah, Bapak Marzudi dan Bapak Slamet.

Menurut Kebat Soekarno (35), sopir dari pihak dinas PU, yang mengangkut dari TPS Kadisoko ke TPA Piyungan Bantul. Voleme sampah dari TPS Kadisoko setiap hari bersikar dari 4 hingga 5 kubik. Berbeda ketika hari libur, pada hari libur biasanya sampah dari rumah tangga lebih banyak. Sampah-sampah yang diangkut dari TPS Kadisoko berupa sampah residu. Karena sudah diambil dan pilah oleh tujuh orang. Dua orang pemulung, Bu Yani dan Suhartini setiap hari tidak sekedar memilah di TPS Kadisoko, tapi juga turut membantu menaikkan sampah-sampah residu ke truk. Lalu sampah diangkut ke TPA Piyungan Bantul.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juni 10, 2013 by in Reportase.
%d blogger menyukai ini: