Fathor Rahman MD

hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan dimenangkan

Virtu Penentu Kualitas Demokrasi

Niccolo Machiavelli, filsuf politik Italia abad ke-16, lebih tepat selaku pemandu global abad ke-21 ketimbang Marx. Pendekatan Machiavelli terfokus pada peran individu sebagai aktor mandiri yang memiliki, menciptakan, dan memanfaatkan sumber daya politik. Ia menawarkan kerangka berharga, terdiri atas konsep-konsep virtù dan fortuna, yang bisa dimanfaatkan untuk menciptakan teori tindakan baru pada zaman kita (Prof. R. William Liddle).

 

Buku ini mulanya orasi ilmiah Prof. R. William Liddle dipengelaran Nurcholish Madjid Memorial Lecture Buku-Memperbaiki-Mutu-Demokrasi(NMML) ke V tahun 2011. Kemudian diterbitkan diakhir tahun 2012 dengan dilengkapi beberapa tulisan tanggapan. Prof. R. William Liddle akrab dipanggil Pak Bill, sosok pemikir politik Indonesianis berkebangsaan Amerika. Kegemarannya melakukan riset di berbagai belahan dunia tentang demokrasi, ia tampak intlektual comparativist. Gagasan Pak Bill dalam buku ini cukup mengudang perdebatan. Wajar bila judul buku Memperbaiki Mutu Demokrasi di Indonesia; Sebuah Perdebatan.

Judul tulisan Pak Bill sendiri dalam buku ini, “Marx atau Machiavelli?: Menuju Demokrasi Bermutu di Indonesia dan Amerika”. Pak Bill mengawali analisis gagasannya dengan banyak mengutip hasil riset Robert Dahl, pemikir politik Amerika modern yang banyak meriset relasi kapitalisme dengan demokrasi. Dahl mencatat, bahwa demokrasi lebih memiliki kemungkinan berkembang baik di negara-negara yang memiliki sistem ekonomi pasar (kapitalisme). Karena secara sosiologis perkembangan masyarakatnya lebih dinamis. Pasar bebas selalu menguntungkan dan merugikan sekaligus. Itulah sebab yang membuat setiap orang mejadi kritis atas keadaan. Sehingga berpotensi memperbaiki kualitas demokrasi.

Sedangkan di negara non-pasar masyarakatnya tidak kompetitif karena sebagian besar sumber daya ekonomi ada di satu tangan, yaitu tangan negara. Dalam situasi tertentu kenyataan itu bermakna monopoli. Peluang penguasa untuk membangun atau mempertahankan kekuasaannya menjadi lebar dan masyarakatnya tidak kritis. Sehingga mengarah pada sistem oligarki atau otoriter. Pada abad ke-20, kenyataan itu terlihat di negara-negara komunis dan fasis. Namun, Robert Dahl disisi lain juga kritis melihat relasi kapitalisme dengan demokrasi. Kapitalisme dalam sistem demokrasi berpotensi mendorong dominasi sumber daya politik oleh sekelompok orang yang memiliki kekuatan modal ekonomi.

Kenyataan semacam itu belakangan terlihat di Indonesia, dimana mereka yang memiliki modal lebih punya hak politik untuk menjadi pemimpin atau maju dalam kontestas politik. Artinya, tantangan terbesar untuk demokrasi yang bermutu tinggi di masyarakat bersistem kapitalisme adalah pembagian sumber daya politik yang tidak merata. Pemerataan sumber daya politik tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi semata. Dahl mendefinisikan sumber daya politik semua hal yang bisa digunakan untuk memengaruhi, langsung atau tidak langsung, perilaku orang lain. Kenyataan itu baru kentara setelah demokrasi dalam bentuk lembaga-lembaga elektoral, kepartaian, pemerintahan, dan kepentingan ditegakkan.

Pak Bill mengamini argumentasi ilmiah Dahl, bahwa tantangan dan ancaman terbesar untuk mewujudkan demokrasi yang bermutu tinggi di masyarakat bersistem kapitalisme saat ini adalah pembagian sumber daya politik yang tidak merata karena faktor penguasaan modal. Tapi Bagi Pak Bill, tidak seharusnya mengambil jalan ekstrem seperti argumentasi yang dibangun kelompok pemikir kiri, kapitalisme harus ditumbangkan. Karl Marx dan pengikutnya hingga kini tidak menawarkan jalan keluar dalam rangka penguatan mutu demokrasi. Menurut Pak Bill kelompok mereka justru mendorong membuang sang bayi, demokrasi, bersama bak mandinya, kapitalisme sekalian (throw out the baby with the bathwater). Padahal, kedua-duanya perlu diselamatkan. (Hal. 04).

Dalam kenyataan itu Pak Bill terlihat lebih memperhitungakan pemikiran Niccolo Machiavelli dibanding Karl Marx. Pak Bill secara mendasar melihat kelemahan klasik dari cara pandang kaum marxis. Bagi Karl Marx, aktor utama dalam sejarah bukanlah individu, melainkan kelas sosial berdasarkan pemilikan properti. Proses perubahan sosial dibentuk dan digerakkan oleh perbenturan kelas. Marx lebih melihat agen komunal faktor perubahan, kesetaraan kelas, dimana negara lebih diprioritaskan memiliki hak politik dan ekonomi. Sedangkan setiap orang terbatasi hak dan kebebasannya, itu menurut Pak Bill berlawanan dengan semangat demokrasi. Untuk itu Pak Bill memandang dua hal penting dari gagasan Niccolo Machiavelli, tentang virtu dan fortuna.

Virtu merupakan sumber daya politik, wujudnya berupa kepintaran dan keberanian strategis dan taktis, ketelitian, ketegasan, reputasi pemurah hati dan pemaaf, dukungan masyarakat sendiri, dukungan penguasa negara tetangga, kemampuan memilih pembantu dan kemampuan membaca tanda zaman. Sedangkan fortuna adalah keberuntungan. Bagi Machiavelli keberuntungan merupakan separuh unsur dari tindakan manusia dan separuhnya lagi adalah virtu dalam sebuah sistem yang bebas. Fortuna ibarat seorang perempuan dan kalau Anda mau menguasainya, Anda harus memukulnya berulang-ulang. (hal. 23).

Dengan berpijak pada inti gagasan Machiavelli tentang virtu dan fortuna, Pak Bill dalam buku ini menawarkan perlunya kita mengunakan pendekatan teori tindakan dalam mewujudkan kualitas demokrasi. Warga sebagai individu mesti memaksimalkan virtu, sumber daya politik yang dimiliki. Artinya, untuk meningkatkan kualitas demokrasi harus bermula dari inisiatif individual warganegara, yang oleh Pak Bill istilahkan dengan “full citizens”. Kemampuan individual setiap warga merupakan modal mendasar dari penguatan kualitas demokrasi. Dalam hal itu, Pak Bill menyertakan teori-teori kepemimpinan dalam mennguatkan gagasannya, bahwa peran individu sangat besar dalam proses perubahan. Dalam meningkatkan kualitas atau kemampuan individu, Pak Bill bersepakat dengan gagasan Amartya Sen tentang lima jenis hak dan kebebasan.

Pertama, political freedoms, kebebasan politik, hak-hak untuk menentukan siapa yang berkuasa, termasuk hak memilih, kebebasan organisasi dan pers, hak untuk mengkritik kebijakan pemerintah, serta hak-hak politik dan sipil lainnya. Kedua, economic facilities, fasilitas ekonomi, termasuk kesempatan menggunakan sumber daya ekonomi demi keperluan konsumsi, produksi, dan pertukaran. Ketiga, social opportunities, kesempatan-kesempatan sosial, termasuk kesempatan memperoleh pendidikan dan perawatan kesehatan yang layak. Keempat, transparency guarantees, jaminan transparansi atau keterbukaan pemerintah, agar korupsi dan penyelewengan finansial pemerintah dicegah. Kelima, protective security, jaminan perlindungan terhadap keamanan pribadi, termasuk jaringan keselamatan sosial buat penganggur dan korban bencana alam.(Hal. 38)

Buku ini semakin menarik ketika dilanjutkan membaca komentar beberapa pengamat sosial politik terkemuka di Indonesia. Diantaranya, Goenawan Mohamad, Burhanuddin Muhtadi, Sri Budi Eko Wardani, Ari Dwipayana, Airlangga Pribadi dan beberapa komentator lainnya. Goenawan Mohamad misalnya, ia membaca Marx atau Machiavelli yang dilihat Pak Bill tidak utuh, sehingga pada tahap tertetu bisa membawa konsekuensi kenyataan tak serupa dengan pandangan Pak Bill. Berbedangan dengan tanggapan Burhanuddin Muhtadi, ia tampak optimis dan sekaligus pesimis. Optimis sebagai sebuah tatanan teori, cukup menambah khazanah kajian kita tentang demokrasi. Pesimis karena ada banyak hal yang patut disangsikan, tidak akan compatable dalam tataran praksis di Indonesia.

Dalam tulisan ini penulis sengaja tidak meringkas kesuluruhan artikel para komentator yang menanggapi gagasan Pak Bill. Namun secara garis besar, penulis ingin menyapainaka, semua artikel para komentator melihat orasi ilmiah Pak Bill sebagai sesuatu yang penting dan berharga, idenya cukup memancing pikiran dan mendorong kita bergerak ke arah perbaikan lebih baik. Karena itu buku ini sangat menarik kita bedah lebih jauh, kita perdebatkan secara ilmiah. Semoga bermanfaat.

Dipublikasi di Majalah Flamma-IRE, Edisi April-Juni 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juni 10, 2013 by in Resensi.
%d blogger menyukai ini: