Fathor Rahman MD

hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan dimenangkan

Perempuan Cantik yang Gemar Berbagi

Tovie dan suaminya adalah pengusaha batu alam ekspor. Usianya masih 33 tahun. Ia bernama lengkap Yuniana Oktoviati. Awalnya mengaku sering menunda sedekah hingga lupa. Lalu ia berinisiatif membuka warung makan yang dibagikan secara gratis bagi para fakir mikis dan kaum dhuafa. Belakangan mulai banyak orang yang respek dan ikut menyumbang kegiatan sosialnya tersebut. Ia juga sedang mempersiapkan buka warung serupa di pusat kota Yogyakarta.

Di tengah kehidupan kota yang semakin individualistik. Sikap yang mementingkan diri sendiri. Kekayaan ditumpuk demi kemegahan personal. Karier menjadi nomor satu sebagai prestasi sosial. Di Jalan Gedongkuning Selatan no. 126 B Yogyakarta tampak pemandangan yang unik di tengah situasi demikian. Sebuah warung makan yang di depannya bertuliskan, “Warung Shodaqoh, Khusus Fakir Miskin dan Kaum Dhuafa. Gratis..!” dibuka setiap hari Jumat. Warung itu dibuka dari jam 11.00 hingga 13.00 WIB.10898132_10205870075260577_8190962329342119930_n

“Kita gratiskan untuk orang yang tidak mampu dan orang yang kehabisan uang,” ungkap si empunya warung. Warung itu tidak permanen, dibuka hanya tiap hari Jumat. Tak ada tendensi politis, seperti posko Parpol yang biasanya berdiri berkala ketika ada bencana alam. Juga bukan milik lembaga sosial tertentu. Murni sebuah warung yang dibuka secara personal dengan niat ingin berbagi. Yuniana Oktoviati, dialah perempuan yang punya inisiatif membuka warung makan gratis itu.

Yuniana Oktoviati adalah perempuan yang akrab dipanggil Tovie oleh teman-teman dekatnya. Ia adalah istri dari Kavri Harianto. Suami istri itu bekerja sebagai pengusaha batu alam ekspor. Tovie menuturkan, warung sedekahnya itu rutin dibuka setiap Jumat sejak September 2014 lalu. “Ya murni keinginan saya dan suami mendukung, udah lanjut hingga sekarang,” jelasnya. Banyak orang yang merasa senang dengan adanya warung tersebut. Meski awalnya sering tidak habis, sekarang selalu habis. Demikian ditegaskan Tovie.

“Awalnya orang tidak percaya padahal sudah ada tulisan gratis,” tuturnya. Lalu ia memasang famplet, disebar di beberapa masjid dan sejumlah tempat radius 1 kilo dari rumahnya. Setiap minggu ia menyedia nasi serta lauknya sebanyak 120 hingga 150 porsi. Belakangan juga banyak orang minta dibukus, untuk menghidari akal-akalan orang semata, ia membuat aturan boleh dibungkus paling banyak dua porsi. “Biasanya lauk yang kami sediakan berupa ayam, ikan, minimal telor. Kalau minumnya masih teh dan air putih saja,” ungkap Tovie.

Merasa Bersyukur

“Saya buka warung itu karena saya ingin berbagi dengan sesama, terlebih saat ini biaya hidup termasuk makan juga semakin mahal,” ujar Tovie. Tapi hal yang paling membuat dia terdorong melakukan itu karena dirinya sering lupa untuk sedekah. Tovie mengaku awalnya sering menunda-nunda untuk sedekah. “Sudahlah besok, ditunda sampai lupa. Kalau seperti sekarang ya tak lupa lagi,” tuturnya. Sekarang ia merasa punya tanggung jawab untuk menunaikan sedekah setelah membuka warung makan gratis.

Sekarang Tovie mengaku tak punya perasaan berat untuk memberi sedekah. Diri secara pribadi merasa mendapat terpaan spritual yang kuat. “Saya jadi merasa bersyukur, banyak orang di sekitar kita tidak seberuntung kita secara materi. Itu pengalaman paling berharga yang dapat dari apa yang saya lakukan selama ini,” ungkapnya. Rasa syukur itu juga membuat Tovie semakin bersemangat untuk berbagi. Bulan April mendatang ia berencana membuka warung serupa di tempat yang lain.

“Saya sedang urus diijin minta space di sekitar nol kilometer (pusat kota Jogja. Red) ke Pemkot untuk buka lagi. Rencananya bulan ini tapi saya tunda April karena ada pameran di Jakarta,” tuturnya. Tovie berencana membuka warung di tempat lain karena tempat yang sekarang tidak gampang diakses banyak orang. “Jalan Gedong Kuning kan bukan jalan utama, tapi di rumah ya tetap dibuka,” ungkapnya.

Perempuan yang awalnya enggan untuk diwawancarai karena alasan takut riya ini menjelaskan, dalam hal teknis, mulai memasak dan membagikan, Tovie selama ini dibantu oleh tiga orang karyawan perusahaannya. Perempuan yang juga pengusaha batu alam itu meminta karyawannya membantu memasak dan membagikan. Rencana membuka di tempat lain sebenarnya sudah cukup lama, tapi ia mengaku terkendala di pelaksanaan teknisnya. “Doakan semoga rencana saya berjalan lancar,” pinta perempuan dua anak tersebut.warung-shodaqoh_2002

Mulai Ada Nitip Sedekah

Meski tidak secara rutin belakangan Tovie mengakui sudah banyak orang lain yang menitipkan sedekahnya di warungnya. “Sudah ada enam orang yang pernah menitipkan sedekah di tempat saya,” tuturnya. Dari enam orang tersebut satu orang sudah menyatakan bersedia akan membantu pembiayaan secara rutin perminggu. Apa yang dilakukan Tovie mulai menginspirasi beberapa orang untuk ikut berbagi sedekah. Ia merasa senang dengan adanya orang lain yang ikut mau berbagi.

Ketika ada yang menyumbang, Tovie secara pribadi menuliskan pemberian si penyumpang di beranda faceboknya. Seperti yang dikutip dari akun pribadinya, “Alhamdulillah terus laris dan terimaksih kepada mas Rifqi dari Plenggotan yang sudah bershodaqoh bolang baling di warung shodaqoh dan juga Renny Nugroho serta Shofwan Erci sudah dibelanjakan dan dibagikan ya…. Smoga Allah melipatgandakan berlipat lipat shodaqoh nya dan diberikan kelancaran rejeki dan sehat sekeluarga….. aamiin…. aamiin….aamiin ya robbal ‘alamin,” tulis Tovie diakun facebooknya.

Suprihastono adalah tukang becak yang sempat menikmati suguhan gratis warung Tovie. “Saya sebagai tukang becak, yang pendapatan tiap harinya tidak menentu sangat terbantu dengan keberadaan warung ini. Minimal saya bisa makan siang dengan enak,” begitu tutur Suprihastono saat ditemui di warung tersebut. Warung sedekah itu memang tampak ramai oleh para abang becak dan sejumlah pemulung serta pedagang asongan. Warung itu berdiri tepat di depan rumah Tovie. (Fat)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 19, 2015 by in Reportase.

Navigasi

%d blogger menyukai ini: